Aku Kini Menjanda

Chapter Three

Posted by: Timun on: November 18, 2008

Hampir tengah malam. Kini aku terduduk diam sendirian lebih dari 2 jam. Aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah setelah kejadian penemuan mayat di kampung pak guru. Bergelung memeluk kedua lutut di pinggir kasur. Hanya dekapan udara pengap yang -untungnya- diwarnai suara pelan Alicia Keys setia menemani. Entah sudah berapa kali kaset itu berputar berulang-ulang tak kenal lelah, tak lagi aku menghitung, tapi sepertinya telah membuat muak udara yang terjebak disana. Lampu kuning yang bersinar lembut dimeja kecil itu justru membuat atmosfir semakin kaku dalam kamar itu. Kelam dan berantakan! Tumpukan buku dan novel murahan teronggok di sudut tempat tidur. Empat bantal berserakan dilantai sengaja kulempar kesana supaya dapat kukuasai seluruh tempat tidur.

Gelas berkaki berisi air putih penuh hingga ke bibirnya, tak tersentuh. Aku kembali terbang ke masa lalu.

Saat aku masih kecil, aku ingat sering diajak ibu ke rumah nenek, kadang dipaksa walaupun aku tak ingin ikut pergi. Aku masih sibuk dengan boneka atau melihat televisi dan tetap diajak pergi, tentu saja aku protes dan meraung. Apalagi sesampainya di rumah nenek, biasanya aku tak dipedulikan ibu. Beliau sibuk ngobrol serius dengan nenek, kadang sampai sesengukan dan berpelukan. Kemudian bapak menjemput dan dengan senang aku menyambutnya. Ibu sering memarahi jika aku langsung menarik bapak mengajak pulang, aku sungguh tak mengerti. Kadang beberapa hari bapak baru datang menjemput. Bibi yang kemudian menceritakannya kepadaku, bahwa ibu tak ingin pulang karena marahan dan berselisih dengan Bapak. Aku toh tetap tak mengerti. Bibi bilang Bapak melakukan sesuatu hal yang membuat ibu marah. Saat itu aku benci Bapak. Aku lebih sering menginap di rumah ayah.

Waktu aku sekolah di SD, saat yang paling menyenangkan adalah waktu acara perkemahan. Sebagai anggota Pramuka dan Ketua Kelas, tentu saja aku wajib ikut. Dan kerennya, aku tak perlu menginap di tenda yang dingin dan berangin karena memiliki hak khusus sebagai kepala suku. Senangnya tinggal di luar rumah dengan teman-teman tanpa orang tua atau kakak yang mengawasi. Seharusnya acara menginap dan semua hal tentang kepramukaan berlangsung dari hari Jum’at sampai Minggu. Tapi sabtu pagi aku sudah dijemput oleh Ibu dan langsung diajak membereskan barang bawaanku dan pulang ke rumah. Saat aku protes. Ibu cuma memelototi aku dan bilang pokoknya tak ada lagi nginap di sekolah, harus pulang. Aku kecewa sekali. Ibu otoriter. Ketika hari Senin aku kembali ke sekolah, rasa sebalku berubah. Menurut temanku, perkemahan itu dibubarkan karena salah seorang Pembina kami kedapatan masuk ke tenda anak-anak perempuan kelas VI dan tidur disana. Saat itu aku benci laki-laki.

Memasuki masa SMP, yang paling aku ingat adalah saat aku mendapat datang bulan pertamaku. Sakit sekali, perut rasanya dipelintir. Belum lagi kalau ada pelajaran olahraga atau hari Jumat, dimana seragam kami adalah batik dengan rok putih. Akibatnya, demi menjaga terjadinya kebocoran dan hal-hal jorok yang tidak diinginkan, saya selalu berdoa agar tidak mens kalau hari Jum’at. Jika terpaksa, aku selalu membawa jaket untuk diikatkan ke pinggang. Saat pelajaran biologi, aku tahu bahwa anak laki-laki bisa melewati masa puber dan menuju kedewasaan hanya dengan bermimpi dan bersunat. Sejak itu aku memutuskan untuk bergabung dengan gank anti-berbaikan dan anti-berpacaran dengan anak laki-laki.

Menjelang lulus SMA, pacar kakakku datang kerumah dan menangis -cenderung meraung- sambil menciumi kaki ibuku. Dia tidak terima kakak laki-lakiku ternyata melamar perempuan lain. Seseorang yang baru dikenal ditempat kerjanya yang baru. Mungkin dia menyesal kenapa dulu memaksa kakakku mencari pekerjaan sebelum menikah. Tapi, bahkan ibuku tak bisa berbuat apa-apa. Beliau hanya meminta maaf dan mendoakan agar mantan pacar kakakku itu segera mendapat jodoh yang lebih baik. Mendadak, sejak itu aku selalu merasa muka kakakku serupa monster.

Kini, aku kuliah dan bekerja. Seseorang berhasil memperdaya aku. Dia lupa, aku bukan manusia. Aku tak akan tinggal diam.

For all the mothers fighting
For better days to come
And all my women, all my women sitting here trying
To come home before the sun
And all my sisters
Coming together
Say yes I will
Yes I can

Cause I am a Superwoman
Yes I am
Yes she is
Even when I’m a mess
I still put on a vest
With an S on my chest
Oh yes I’m a Superwoman

When I’m breaking down
And I can’t be found
And I start to get weak
Cause no one knows
Me underneath these clothes
But I can fly … We can fly

Tinggalkan Balasan