Aku Kini Menjanda

Chapter Two

Posted by: Timun on: November 13, 2008

Old habits are hard to break, aku membatin. Kenapa pagi ini aku menyiapkan air hangat untuk Ayah mandi? Sekarang beliau sudah tak perlu mandi pagi-pagi. Hal yang menggelikan tapi justru membuat dadaku dibanjiri kepedihan, mengingat ayah. Mungkin karena suasana rumah ini yang membuat aku kembali menjelma peran menjadi anak kesayangan ayah. Aduh, masa yang nyaman dan begitu penuh keindahan.

Bagusnya aku menikmati sendiri berendam di bak mandi ini. Menenangkan sekali, saat seluruh tubuh penatku terbenam penuh kedalam air hangat itu. Dulu Ayah pasti marah jika aku mandi menggunakan jatahnya. Dan memikirkan mukanya yang  berkerut kesal dan matanya yang mencoba memelototi aku namun justru menyipit, menghadirkannya hanya dalam benakku seperti saat ini membuat senyumku terkembang. Ah, aku tahu Ayah setia menemaniku selalu.

Begitu lekat kehadirannya dipikiranku, aku bahkan dapat mencium bau rerumputan dan kebun kesayangan Ayah yang disapu hujan tadi malam. Rumput yang hijau dan rapi karena baru dipangkas kemarin sore, dengan embun basah yang melekat berkilauan. Dan Ayah hanya berdiri di teras, melipat kedua tangannya didepan perut gendut hangatnya, matanya berbinar memandang berkeliling seputaran kebun kecilnya nan indah dengan kagum. Mukanya secerah orang yang menang lotere. Sebentar kemudian dia berteriak, ‘bawa kamera kesini, mawar putihnya sudah mekar dengan sempurna’. Ya, Ayah sangat mengidolakan semua bunganya dan tak ada pengecualian, masing-masing diabadikan dalam minimal selembar photo. Bahkan beberapa malam Ayah pernah beliau begadang sekedar untuk menjadi saksi mekarnya si kembang Wijayakusuma. Pernah satu saat, ketika beliau hendak berangkat sembahyang subuh mendapati si kembang sedang mekar. Tak ingin ketinggalan sembahyang berjamaah, Ayah mengurungkan niat mengambil kamera dan bermaksud memotretnya selepas subuh. Betapa kecewanya beliau, saat kembali ke rumah si kembang sudah menguncup. Besoknya, tak ingin ketinggalan momen bersejarah itu, beliau sengaja tidak tidur dan menunggu. Tak sia-sia karena sekitar pukul 3 pagi, si kembang kembali menampakkan kegenitannya dan menggoda Ayah. Saking gembiranya, Ayah berteriak membangunkan seisi rumah. Rasanya, ayah tidak segembira itu saat tahu aku lulus sd dan juara satu. Meskipun mengeluh dan mata memberat, aku turut bahagia.

Begitu banyak masa-masa bahagiaku dengan Ayah. Yang paling membekas saat usiaku sebelas tahun, saat pertama kali aku diajak Ayah menonton sirkus. Ya, tempat dimana banyak binatang berakrobat dan badut. Ayah membenci badut, tapi beliau rela menemani aku yang merengek minta ditemani kesana. Walopun itu setelah beliau tahu betapa seluruh teman sekolahku ribut membicarakan kehebatan atraksi itu dan aku tak mau berangkat sekolah karena benci cara mereka memberiku pandangan seolah heran bercampur kasihan karena aku belum pernah menonton sirkus. Malam itu kami mampir ke warung mie dan menikmati makan hanya berdua. Maksudku, benar-benar berdua, karena sungguh tak ada orang lain yang berkunjung ke warung itu. Ayah larut dalam gembiraku, suka sekali dia membuat aku sebal dengan pura2 mengoleskan upil ke pipiku. Aku ingat memeluk erat perutnya yang lebar dan hangat sesudahnya.

Aku memiliki ayah, aku tidak butuh siapa-siapa.

Langkah-langkah kaki beriringan membangunkanku dari masa lalu. Pak guru dan istrinya rupanya sudah pulang dari jogging. Hal yang tak pernah absen mereka lakukan setiap pagi. Demi alasan kesopanan, sayapun menyudahi prosesi melepas kangen dengan ayah dan segera merapikan diri.

Di meja makan, mereka menyambut saya dengan senyuman.

‘Tumben pak joggingnya cepat sekali hari ini’ saya heran karena jam belum menunjukkan pukul 7 dan tak biasanya mereka menikmati sarapan lebih awal.

‘Iyah, ramai sekali sepagi ini di tepian sungai, tak nyaman berjalan-jalan. Ada mayat tak dikenal ditepian sungai’

‘Mayat? Orang?’ saya berseru kaget.

‘He eh. Laki-laki muda, bukan orang sini. Sepertinya pembunuhan. Entah apa mau manusia sekarang ini. Bahkan ditempat terpencil seperti kampung ini ada saja manusia dikuasai nafsu setan.’

Saya urung menikmati sarapan nasi goreng pete.

5 Tanggapan ke "Chapter Two"

penasaran dengan si mayat, eh kelanjutan ceritanya :)

:lol: :lol: :lol:

eh..ini novel misteri ya
*lost focus*

wah pasti kebunnya indah
kebun yg membawa senyum dan keceriaan :)

walah, kok tiba2 ada mayat, mbak? duh ini fiksi atau nonfiksi, mbak?

Bukan korban mutilasi toh mbak? ..

*setel TV nunggu berita*

Tinggalkan Balasan