Posted by: Timun on: November 11, 2008
Gelap menyelimuti pagi. Masih beberapa jam lagi sebelum matahari muncul dan memanaskan atmosfir bumi. Kabut terangkat dari permukaan sungai dan menari, menggantung ringan diudara seolah sengaja menutup sinar temaram rembulan. Selalu, aku menyukai keheningan di tepian sungai yang sepi seperti saat ini. Dan sentuhan udara dingin yang menerpa ringan ke pori-pori kulit mukaku, menjalar ke seluruh tubuh hingga ujung kakiku. Disini, aku seperti berada di dunia yang baru. Berdiri tegak tak berkedip di kegelapan, menghentikan aktivitas kepalaku. Tak bicara sepatah katapun. Asing dan terlupakan.
Mungkin butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengakui bahwa kini aku tak lagi penuh. Jiwaku seolah pergi dan tak menemukan jalan pulang, selalu mengembara dan tersebar. Kesemuaku kini hanyalah ilusi. Aku tak tahu. Setiap kali, aku seperti terbangun diatas sebuah batu hitam yang terhampar di tengah rerumputan coklat kehitaman. Gersang.
Seperti naga, semuamu hanyalah mitos.
Dulu, aku berjanji, jika kamu tersesat aku akan langsung mencari, berusaha menemukanmu dan membawamu kembali. Maafkan karena tak mampu menepati itu. Mendadak dadaku sesak ditimbun rasa rindu pada laki-laki pembisik itu.
Aku melirik tubuh laki-laki yang terbaring pucat dihamparan batu. Gerakan kakinya pelan menendang bebatuan, menimbulkan bunyi gemerisik membuyarkan lamunanku. Tentu saja dia tidak dapat bergerak leluasa dengan kedua kaki dan tangan terikat kuat. Napasnya lemah satu- satu. Dia sudah sadar. Matanya yang terbuka lemah itu berkaca-kaca. Bola mata hitamnya memandangku tak karuan, melontarkan pandangan memelas sekaligus panik, memohon dikasihani.
Kemudian, getaran kecil menggoyang pundaknya, kelopak matanya terpejam, rahangnya terkulai … Laki-laki itu mati!
Aku membunuhnya.
Sampai ketemu kembali, whisper.
…
… ah keren…
semacam pribadi yang terbelah…
1 | Elys Welt
November 12, 2008 pada 1:49 pm
alasannya ?