Aku Kini Menjanda

HUSBAND of the year award

Posted by: Timun on: Maret 20, 2009

Starting off the competition of the

HUSBAND OF THE YEAR AWARDS

the honorable mention are :

THE UNITED KINGDOM

image0011

followed closely by

THE USA …….

image0021

and then ….. POLAND

image0031

but 3rd place must go to

GREECE

image004

it was very very close

but the runner up prize was awarded to …

SERBIA


image005

but the winner of the husband/partner of the year is …

IRELAND

you gotta love the IRISH

image006

the IRISH are true romantic, look, he s even holding her hand


[got this from a dear friend huhuhuhuhuhuu]



I shall see you in heaven

Posted by: Timun on: Desember 15, 2008

Aku pernah merasai mati. Sebenarnya, aku tak mau lagi. Aku ingin hidup hanya untuk dapat memelukmu lagi. Tapi, I’m so tired of being strong. That woman had gone, you have done a great job. I have no heart. Feel no joy. I see only sorrow.

The death smile at me and all I can do is smile back.

Tuhan, aku tak meminta lepas dari penderitaan ini. Tapi berikanlah aku kekuatan dan keberanian.

broken

Posted by: Timun on: Desember 9, 2008

Waktu itu, aku adalah kepompong. Saat ber-metamorfosis menjadi kupu-kupu tentu saja sangat aku tunggu. Aku bosan berbentuk bulat dan tidak cantik. Tak ada yang melirikku.

Waktu yang kunanti akhirnya tiba. Ada lubang kecil yang mengarah ke udara terbuka, siap mengantarku mengalami perubahan itu. Melelahkan sekali ternyata, melewati luabng kecil itu. Sejenak, aku menghela nafas dan beristirahat. Baru kusadari, ada sesosok manusia purba yang mengawasi gerak gerikku. Seolah takjub, dia berkeinginan membantuku, yang terlihat lemah. Dengan tangan kasarnya, dikuakkan lubang kecil itu. Akupun dengan cepat bisa lolos menghirup udara segar.

Tapi, aku tak bisa mengepakkan sayap-sayapku. Berulang kali aku mencoba, gagal. Aku hanya bisa merangkak. Sayapku lumpuh.

Bantuan manusia purba itu melumpuhkanku. Konon, lubang kecil itu tak semestinya terkuak. Dengan melalui lubang kecil itu, aku mestinya bisa menghidupkan sayap-sayap mudaku.

Manusia purba itu hanya ingin membantu. Dia tak tahu. Apalagi aku.

my heart you stole

Posted by: Timun on: Desember 1, 2008

They say time could heal my broken heart
But still, I have to have all the pieces
Right?
Give …
Oh give me back all the pieces

lelah menjanda

Posted by: Timun on: November 25, 2008

eh ujan gerimis aje
ikan teri diasinin
eh jangan menangis aje
nyang pergi jangan dipikirin

nape ujan gerimis aje
ikan lele ada kumisnye
eh kenape menangis aje
ya udeh yuk cari gantinyee

0857 32 36 20 65

:)

oh god

Posted by: Timun on: November 21, 2008

I know it’s been a while since I have talked to you
But maybe you’re the one who makes the winds blow
We’re looking at the stars without explanation
We contemplate as kings and simple men on trial
Our little world’s fragile

Oh God can you tell us when it’s going to stop
Maybe it’s not just down to you
Oh God can we win back what we have lost
So who’s the last resort… Oh God

Tumbling towards unclear destinations
Do they wash away the blame,
The wind and the searing rains
As our powers interchange

jamie cullum rocks!

Chapter Four

Posted by: Timun on: November 18, 2008

I let the beast in too soon
I don’t know how to live
Without my hand on his throat
I fight him always and still

O darling, it’s so sweet
You think you know how crazy
How crazy I am

You say you don’t spook easy
You won’t go, but I know
And I pray that you will

Fast as you can, baby
Run-free yourself of me
Fast as you can

I may be soft in your palm
But I’ll soon grow hungry for a fight, and I will not let you win
My pretty mouth will frame the phrases that will disprove your faith in man
So if you catch me trying to find my way into your heart from under your skin

Fast as you can, baby
Scratch me out, free yourself
Fast as you can
Fast as you can
Baby scratch me out, free yourself
Fast as you can

Sometimes my mind don’t shake and shift
But most of the time, it does
And I get to the place where I’m begging for a lift
Or I’ll drown in the wonders and the was

And I’ll be your girl, if you say it’s a gift
And you give me some more of your drugs
Yeah, I’ll be your pet, if you just tell me it’s a gift
‘Cause I’m tired of whys, choking on whys,
Just need a little because, because

I let the beast in and then
I even tried forgiving him, but it’s too soon
So I’ll fight again, again, again, again, again
And for a little while more
I’ll soar the uneven wind, complain and blame the sterile land
But if you’re getting any bright ideas, quiet dear I’m blooming within

Fast as you can, baby wait watch me, I’ll be out
Fast as I can, maybe late but at least about
Fast as you can leave me, let this thing run its route

Fast as you can, fast as you can
Fast as you can, fast as you can

Fiona  rocks!!

Chapter Three

Posted by: Timun on: November 18, 2008

Hampir tengah malam. Kini aku terduduk diam sendirian lebih dari 2 jam. Aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah setelah kejadian penemuan mayat di kampung pak guru. Bergelung memeluk kedua lutut di pinggir kasur. Hanya dekapan udara pengap yang -untungnya- diwarnai suara pelan Alicia Keys setia menemani. Entah sudah berapa kali kaset itu berputar berulang-ulang tak kenal lelah, tak lagi aku menghitung, tapi sepertinya telah membuat muak udara yang terjebak disana. Lampu kuning yang bersinar lembut dimeja kecil itu justru membuat atmosfir semakin kaku dalam kamar itu. Kelam dan berantakan! Tumpukan buku dan novel murahan teronggok di sudut tempat tidur. Empat bantal berserakan dilantai sengaja kulempar kesana supaya dapat kukuasai seluruh tempat tidur.

Gelas berkaki berisi air putih penuh hingga ke bibirnya, tak tersentuh. Aku kembali terbang ke masa lalu.

Saat aku masih kecil, aku ingat sering diajak ibu ke rumah nenek, kadang dipaksa walaupun aku tak ingin ikut pergi. Aku masih sibuk dengan boneka atau melihat televisi dan tetap diajak pergi, tentu saja aku protes dan meraung. Apalagi sesampainya di rumah nenek, biasanya aku tak dipedulikan ibu. Beliau sibuk ngobrol serius dengan nenek, kadang sampai sesengukan dan berpelukan. Kemudian bapak menjemput dan dengan senang aku menyambutnya. Ibu sering memarahi jika aku langsung menarik bapak mengajak pulang, aku sungguh tak mengerti. Kadang beberapa hari bapak baru datang menjemput. Bibi yang kemudian menceritakannya kepadaku, bahwa ibu tak ingin pulang karena marahan dan berselisih dengan Bapak. Aku toh tetap tak mengerti. Bibi bilang Bapak melakukan sesuatu hal yang membuat ibu marah. Saat itu aku benci Bapak. Aku lebih sering menginap di rumah ayah.

Waktu aku sekolah di SD, saat yang paling menyenangkan adalah waktu acara perkemahan. Sebagai anggota Pramuka dan Ketua Kelas, tentu saja aku wajib ikut. Dan kerennya, aku tak perlu menginap di tenda yang dingin dan berangin karena memiliki hak khusus sebagai kepala suku. Senangnya tinggal di luar rumah dengan teman-teman tanpa orang tua atau kakak yang mengawasi. Seharusnya acara menginap dan semua hal tentang kepramukaan berlangsung dari hari Jum’at sampai Minggu. Tapi sabtu pagi aku sudah dijemput oleh Ibu dan langsung diajak membereskan barang bawaanku dan pulang ke rumah. Saat aku protes. Ibu cuma memelototi aku dan bilang pokoknya tak ada lagi nginap di sekolah, harus pulang. Aku kecewa sekali. Ibu otoriter. Ketika hari Senin aku kembali ke sekolah, rasa sebalku berubah. Menurut temanku, perkemahan itu dibubarkan karena salah seorang Pembina kami kedapatan masuk ke tenda anak-anak perempuan kelas VI dan tidur disana. Saat itu aku benci laki-laki.

Memasuki masa SMP, yang paling aku ingat adalah saat aku mendapat datang bulan pertamaku. Sakit sekali, perut rasanya dipelintir. Belum lagi kalau ada pelajaran olahraga atau hari Jumat, dimana seragam kami adalah batik dengan rok putih. Akibatnya, demi menjaga terjadinya kebocoran dan hal-hal jorok yang tidak diinginkan, saya selalu berdoa agar tidak mens kalau hari Jum’at. Jika terpaksa, aku selalu membawa jaket untuk diikatkan ke pinggang. Saat pelajaran biologi, aku tahu bahwa anak laki-laki bisa melewati masa puber dan menuju kedewasaan hanya dengan bermimpi dan bersunat. Sejak itu aku memutuskan untuk bergabung dengan gank anti-berbaikan dan anti-berpacaran dengan anak laki-laki.

Menjelang lulus SMA, pacar kakakku datang kerumah dan menangis -cenderung meraung- sambil menciumi kaki ibuku. Dia tidak terima kakak laki-lakiku ternyata melamar perempuan lain. Seseorang yang baru dikenal ditempat kerjanya yang baru. Mungkin dia menyesal kenapa dulu memaksa kakakku mencari pekerjaan sebelum menikah. Tapi, bahkan ibuku tak bisa berbuat apa-apa. Beliau hanya meminta maaf dan mendoakan agar mantan pacar kakakku itu segera mendapat jodoh yang lebih baik. Mendadak, sejak itu aku selalu merasa muka kakakku serupa monster.

Kini, aku kuliah dan bekerja. Seseorang berhasil memperdaya aku. Dia lupa, aku bukan manusia. Aku tak akan tinggal diam.

For all the mothers fighting
For better days to come
And all my women, all my women sitting here trying
To come home before the sun
And all my sisters
Coming together
Say yes I will
Yes I can

Cause I am a Superwoman
Yes I am
Yes she is
Even when I’m a mess
I still put on a vest
With an S on my chest
Oh yes I’m a Superwoman

When I’m breaking down
And I can’t be found
And I start to get weak
Cause no one knows
Me underneath these clothes
But I can fly … We can fly

Chapter Two

Posted by: Timun on: November 13, 2008

Old habits are hard to break, aku membatin. Kenapa pagi ini aku menyiapkan air hangat untuk Ayah mandi? Sekarang beliau sudah tak perlu mandi pagi-pagi. Hal yang menggelikan tapi justru membuat dadaku dibanjiri kepedihan, mengingat ayah. Mungkin karena suasana rumah ini yang membuat aku kembali menjelma peran menjadi anak kesayangan ayah. Aduh, masa yang nyaman dan begitu penuh keindahan.

Bagusnya aku menikmati sendiri berendam di bak mandi ini. Menenangkan sekali, saat seluruh tubuh penatku terbenam penuh kedalam air hangat itu. Dulu Ayah pasti marah jika aku mandi menggunakan jatahnya. Dan memikirkan mukanya yang  berkerut kesal dan matanya yang mencoba memelototi aku namun justru menyipit, menghadirkannya hanya dalam benakku seperti saat ini membuat senyumku terkembang. Ah, aku tahu Ayah setia menemaniku selalu.

Begitu lekat kehadirannya dipikiranku, aku bahkan dapat mencium bau rerumputan dan kebun kesayangan Ayah yang disapu hujan tadi malam. Rumput yang hijau dan rapi karena baru dipangkas kemarin sore, dengan embun basah yang melekat berkilauan. Dan Ayah hanya berdiri di teras, melipat kedua tangannya didepan perut gendut hangatnya, matanya berbinar memandang berkeliling seputaran kebun kecilnya nan indah dengan kagum. Mukanya secerah orang yang menang lotere. Sebentar kemudian dia berteriak, ‘bawa kamera kesini, mawar putihnya sudah mekar dengan sempurna’. Ya, Ayah sangat mengidolakan semua bunganya dan tak ada pengecualian, masing-masing diabadikan dalam minimal selembar photo. Bahkan beberapa malam Ayah pernah beliau begadang sekedar untuk menjadi saksi mekarnya si kembang Wijayakusuma. Pernah satu saat, ketika beliau hendak berangkat sembahyang subuh mendapati si kembang sedang mekar. Tak ingin ketinggalan sembahyang berjamaah, Ayah mengurungkan niat mengambil kamera dan bermaksud memotretnya selepas subuh. Betapa kecewanya beliau, saat kembali ke rumah si kembang sudah menguncup. Besoknya, tak ingin ketinggalan momen bersejarah itu, beliau sengaja tidak tidur dan menunggu. Tak sia-sia karena sekitar pukul 3 pagi, si kembang kembali menampakkan kegenitannya dan menggoda Ayah. Saking gembiranya, Ayah berteriak membangunkan seisi rumah. Rasanya, ayah tidak segembira itu saat tahu aku lulus sd dan juara satu. Meskipun mengeluh dan mata memberat, aku turut bahagia.

Begitu banyak masa-masa bahagiaku dengan Ayah. Yang paling membekas saat usiaku sebelas tahun, saat pertama kali aku diajak Ayah menonton sirkus. Ya, tempat dimana banyak binatang berakrobat dan badut. Ayah membenci badut, tapi beliau rela menemani aku yang merengek minta ditemani kesana. Walopun itu setelah beliau tahu betapa seluruh teman sekolahku ribut membicarakan kehebatan atraksi itu dan aku tak mau berangkat sekolah karena benci cara mereka memberiku pandangan seolah heran bercampur kasihan karena aku belum pernah menonton sirkus. Malam itu kami mampir ke warung mie dan menikmati makan hanya berdua. Maksudku, benar-benar berdua, karena sungguh tak ada orang lain yang berkunjung ke warung itu. Ayah larut dalam gembiraku, suka sekali dia membuat aku sebal dengan pura2 mengoleskan upil ke pipiku. Aku ingat memeluk erat perutnya yang lebar dan hangat sesudahnya.

Aku memiliki ayah, aku tidak butuh siapa-siapa.

Langkah-langkah kaki beriringan membangunkanku dari masa lalu. Pak guru dan istrinya rupanya sudah pulang dari jogging. Hal yang tak pernah absen mereka lakukan setiap pagi. Demi alasan kesopanan, sayapun menyudahi prosesi melepas kangen dengan ayah dan segera merapikan diri.

Di meja makan, mereka menyambut saya dengan senyuman.

‘Tumben pak joggingnya cepat sekali hari ini’ saya heran karena jam belum menunjukkan pukul 7 dan tak biasanya mereka menikmati sarapan lebih awal.

‘Iyah, ramai sekali sepagi ini di tepian sungai, tak nyaman berjalan-jalan. Ada mayat tak dikenal ditepian sungai’

‘Mayat? Orang?’ saya berseru kaget.

‘He eh. Laki-laki muda, bukan orang sini. Sepertinya pembunuhan. Entah apa mau manusia sekarang ini. Bahkan ditempat terpencil seperti kampung ini ada saja manusia dikuasai nafsu setan.’

Saya urung menikmati sarapan nasi goreng pete.

Chapter One

Posted by: Timun on: November 11, 2008

Gelap menyelimuti pagi. Masih beberapa jam lagi sebelum matahari muncul dan memanaskan atmosfir bumi. Kabut terangkat dari permukaan sungai dan menari, menggantung ringan diudara seolah sengaja menutup sinar temaram rembulan. Selalu, aku menyukai keheningan di tepian sungai yang sepi seperti saat ini. Dan sentuhan udara dingin yang menerpa ringan ke pori-pori kulit mukaku, menjalar ke seluruh tubuh hingga ujung kakiku. Disini, aku seperti berada di dunia yang baru. Berdiri tegak tak berkedip di kegelapan, menghentikan aktivitas kepalaku. Tak bicara sepatah katapun. Asing dan terlupakan.

Mungkin butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengakui bahwa kini aku tak lagi penuh. Jiwaku seolah pergi dan tak menemukan jalan pulang, selalu mengembara dan tersebar. Kesemuaku kini hanyalah ilusi. Aku tak tahu. Setiap kali, aku seperti terbangun diatas sebuah batu hitam yang terhampar di tengah rerumputan coklat kehitaman. Gersang.

Seperti naga, semuamu hanyalah mitos.

Dulu, aku berjanji,  jika kamu tersesat aku akan langsung mencari, berusaha menemukanmu dan membawamu kembali. Maafkan karena tak mampu menepati itu. Mendadak dadaku sesak ditimbun rasa rindu pada laki-laki pembisik itu.

Aku melirik tubuh laki-laki yang terbaring pucat dihamparan batu. Gerakan kakinya pelan menendang bebatuan, menimbulkan bunyi gemerisik membuyarkan lamunanku. Tentu saja dia tidak dapat bergerak leluasa dengan kedua kaki dan tangan terikat kuat. Napasnya lemah satu- satu. Dia sudah sadar. Matanya yang terbuka lemah itu berkaca-kaca. Bola mata hitamnya memandangku tak karuan, melontarkan pandangan memelas sekaligus panik, memohon dikasihani.

Kemudian, getaran kecil menggoyang pundaknya, kelopak matanya terpejam, rahangnya terkulai … Laki-laki itu mati!

Aku membunuhnya.

Sampai ketemu kembali, whisper.